Teknologi Blockchain untuk Transparansi Ziswaf : Okezone techno

JAKARTA – Prinsip-prinsip penting yang harus dipertahankan dalam manajemen dan publik adalah transparansi. Zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) merupakan dana publik yang harus dikelola secara amanah, profesional, dan transparan sebagai bentuk akuntabilitas publik.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini, dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan transparansi pengelolaan Ziswaf. Dalam hal ini, teknologi blockchain dapat dipertimbangkan untuk diterapkan dalam dunia filantropi, khususnya Ziswaf. Transparansi adalah keuntungan utama dari teknologi blockchain.

Secara sederhana, blockchain dapat didefinisikan sebagai teknologi pencatatan buku besar terdistribusi yang tidak bergantung pada satu server pusat. Data yang dikelola dengan teknologi blockchain memungkinkan untuk dilacak dan diakses oleh siapa saja melalui jaringan internet yang saling terhubung. Dengan kata lain, para donatur dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemantauan.

Lantas, bagaimana penerapan teknologi blockchain di dunia Ziswaf? Lembaga Ziswaf dapat berkolaborasi dengan perusahaan teknologi informasi untuk membuat platform crowdfunding Ziswaf berdasarkan teknologi blockchain. Melalui platform ini, umat Islam dapat membayar zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.

Dengan teknologi blockchain, muzaki, munfik, atau wakif dapat melacak alur pengelolaan dan penyaluran donasi yang telah dikeluarkan kepada pengguna akhir (mustahik atau mauquf ‘alaih). Hal ini dimungkinkan karena setiap transaksi yang ditransfer, semuanya otomatis tercatat dalam teknologi buku besar (ledger technology).

Ini adalah keuntungan dari teknologi blockchain. Melalui penerapan teknologi blockchain, Ziswaf Institute dapat meningkatkan kualitas transparansi dan akuntabilitas publiknya. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk membayar atau mengeluarkan Ziswaf melalui Ziswaf Institute.

Melalui teknologi blockchain, realisasi koleksi Ziswaf yang masih jauh dari potensinya dapat terus direduksi oleh gap tersebut. Mayoritas donatur Ziswaf Institute adalah donatur retail atau individu. Hanya sekitar 15 – 20% yang merupakan donatur korporasi.

Baca Juga :  Cara Ambil Uang di TikTok untuk Transfer Ke Rekening Sendiri : Okezone techno

Dari 80 – 85% pendonor perorangan ini, mayoritas berusia antara 25 – 45 tahun. Artinya, persentase generasi milenial sebagai donatur individu berpotensi untuk ditingkatkan. Targetnya bisa lebih spesifik menyasar rentang usia 25-35 tahun.

Generasi milenial memiliki ciri peer to peer (berinteraksi dan bertransaksi langsung tanpa perantara pihak ketiga), terbuka akses informasi, dan tidak diperhitungkan dalam berdonasi. Mereka tidak akan ragu untuk berdonasi jika Ziswaf Institute mampu memberikan pelayanan donasi sesuai dengan karakteristiknya.

Oleh karena itu, peluang untuk mempercepat pengumpulan Ziswaf dapat dioptimalkan melalui teknologi blockchain. Peluang ini akan semakin optimal jika kita hubungkan dengan bonus demografi yang akan diperoleh masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Artinya, penduduk usia produktif akan mendominasi komposisi warga negara Indonesia. Dan, mereka adalah generasi millennial dan zillenial (generasi yang lahir di atas tahun 2000 dan memiliki karakteristik digital native). Inilah peluang yang harus dioptimalkan oleh Ziswaf Institute agar lebih banyak lagi dana Ziswaf yang terkumpul untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat.

Selain itu, teknologi blockchain juga akan memudahkan Lembaga Ziswaf untuk melaporkan pengumpulan, pengelolaan, dan pendistribusian Ziswaf karena data disajikan secara real time. Transparansi akan menjadi keunggulan kompetitif bagi Institusi Ziswaf yang menerapkan teknologi blockchain.

Selain itu, keterbacaan real-time penyaluran dana ziswaf kepada mustahik dalam bentuk program kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial-dakwah juga membantu memberikan preferensi donasi kepada para donatur.

Donatur yang memiliki preferensi untuk menyalurkan Ziswafnya untuk program pendidikan, misalnya, dapat melacak dan mengakses apakah donasinya benar-benar disalurkan untuk program pendidikan? Hal ini akan meningkatkan tingkat kepuasan donatur atau pelanggan (customer satisfaction index).

Baca Juga :  Tips Koharo: Mengatakan "Eh Google" Dapat Mengaktifkan Google Assistant : Okezone techno

Ketersediaan data secara real-time juga berguna untuk mengevaluasi kinerja koleksi Ziswaf Institute. Perubahan strategi komunikasi pemasaran dan penggalangan dana dapat dilakukan sesuai dengan data perkembangan di lapangan. Pada intinya penerapan teknologi blockchain akan meningkatkan kinerja Lembaga Ziswaf, baik dari segi pengumpulan dan pengelolaannya serta pelaporan dan transparansi publik.

Nah, pertanyaannya, apakah ada Lembaga Ziswaf yang siap menjadi pionir penerapan teknologi blockchain dalam pengumpulan, pengelolaan, dan pelaporan dana Ziswaf? Keuntungannya, biasanya pionir akan menjadi pemimpin pasar.

Artikel tersebut disiapkan oleh Direktur Lembaga Pengembangan Manusia Dompet Dhuafa, Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.